\m/

\m/
liat ini deh

Tanggal sekarang

Sociable

Share it

Minggu, 10 Oktober 2010

Cerita 18th !

Vina The Horny Girl

Vina kutemui ketika mengantar dan menghadiri wisuda adikku, Feby, si bungsu di sebuah universitas terkenal di Bandung. Ketika itu aku berperan menjadi sopir karena harus antar jemput keluarga yang datang dari Sumatra. Si bungsu ini adalah cewe terakhir di keluargaku yang menjadi sarjana. Dalam usia 21 tahun otaknya yang encer ia menjadi sarjana tercepat di keluargaku. Eh bukan mau cerita Feby nih tetapi temannya Feby, si Vina cewek yang wajahnya Bandung banget. Mereka sama sama wisuda, meski dari jurusan yang berbeda. Feby di HI, sedang Vina di Ekonomi. Pendek cerita, usai mengantar Vina dan bokap nyokap from Medan ke arena perwisudaan, tiba tiba datang perintah dari Feby.
"Bang, please, darurat nih, tolong jemput temenku Vina di Salon xxx, bokap nyokapnya blom nyampe. Ntar gak dapet tempat duduk lagi..." katanya dengan wajah memelas. "OK, putri duyung, yang deket PLN itu kan? Ah, gimana aku tau wajahnya?" "Yang paling cantik di salon dan pakai kebaya krem, itu sudah pasti Vina! Jangan coba rayu, ntar aku kasih tahu kakak di rumah lho..." "Ok.." Meski macet, cuma 5 menit aku mencapai salon tempat Vina menunggu. Wah, itu die, pikirku melihat cewe pakai kebaya krem tengah memiji mijit ponsel. Sialan si Feby, no HPnya kagak dikasih ama gue. Begitu dekat aku langsung sapa. "Vina ya?" "Hmmm...bang John ya, sorry nih merepotkan, bokap masih jauh di jalan bang.." "Oh, gak papa Vin, santai aja, lagian kan deket..."
Aku bukain pintu Taft bututku dan dengan sedikit susah dia naik. Hmm...tubuhnya dibalut kebaya bener bener seksi abis, man.Sifat burukku begitu ketemu umpan, alu tak bisa menahan jakunku. Glek. Kututup pintu dan pelan pelan aku jalankan mobil. Aku bisa menaksir Vina tingginya 167,beratnya sekitar 50-51. Dengang model kebaya yang agak tinggi, payudaranya pasti seputaran 36B. Hmm, gile..usianya pastilah seumuran adikku Feby, 21 tahun. Bandingkan dengan aku yang 35 tahun. Lho buat apa lagi dibandingkan. Maksud gue ini dia tipe gue, man. Fresh from campus.

"Bang, kakak gak ikut?" "Kakak siapa Vin?" tanyaku berlagak bego. "Kakak istri abang..." Buset, kapan dia kenalan sama bini gue ya. "Oh, ada di rumah Vin, eh di sekolah antar si kecil..." Alamak, kok jadi grogi gini gue. "Beberapa kali Vina ke rumah ama Feby, abang selalu di luar kota...." "Hehehe...biasalah Vin, cari sesuap nasi ama segenggam berlian..." "Hihihi..si abang bisa aja.." "Hmmm...kamu udah ada yang dampingi nih di wisuda nanti..." "Belom nih bang...cariin dong.." "Ah, masak cewe secakep kamu gak ada yg dampingi.." Aku mulai memasang jerat nih. Bener aja, wajahnya langsung bersemu merah. Aku tau Vina ini tipe cewe yang ramah, sedikit cerdas dan sialnya dia masuk grup penggoda, hehehe... "Terus, ntar mau kerja atau lanjut nih Vin?" kataku basa basi biar gak ketahuan banget jeratannya. "Bokap bilang sih lajut ke Amrik, gue sih masih pengen main dulu bang..." "Lho disuruh sekolah kok malah main...blom puas main sama temen temen..." "Iya nih bang, cowo gue blom tammat hahah..." "Lho tadi bilangnya blom ada pendamping.." Keasyikan ngobrol tau tau sudah sampai di gerbang masuk. Feby melambai lambai dan akhirnya mendekat. "Hi Vin, ngobrol apa sama abang gue. hati hati lo, gue kurang percaya tuh sama abang gue.." Ah, sialan si Feby ngrasanin gue lagi. "Ah, gak kok Vin...lagian kalau gue dirayu juga berarti gue emang cantik, hihihih..."
Aku tinggalkan mereka menuju tempat parkir. Buset dah, bener bener nasib seorang sopir habis ngantar penumpang eh tamu harus keringetan nyari parkiran. Tapi karena habis ngobrol sama cewe keren capeknya tidak terasa juga. Hmmm...Vina, aku suka lihat wajahnya, bodinya makkk.Kulitnya yang putih bersih nampaknya dirawat dengan baik. Semasa kuliah dulu aku suka bilang cewe cewe seperti Vina ini Bandung Banget atau Jawa banget sesuai dengan asalnya. Gue sih, Sumatra banget nget, hehehe. Menurut istriku aku gak ganteng ganteng amat, yang ganteng mah si Mamat, heheh...Bini gue bilang gua ganas aja. Emang bini gue sekarang bukan yang pertama tapi yang terakhir juga bukan. Usai wisuda aku masih ngantar adikku Feby, ortu, istri dan kedua anakku ke restoran Sunda untuk merayakan hari bahagia si bungsu bawel itu. Ketika di parkiran, Feby mengangsurkan ponselnya dengan berbisik. Kali takut dilihat sama istriku.
"Bang, sini nih, Vina mau ngomong..awas jangan rayu rayu ya.." "Halo..Vina ya..selamat ya Vin, sampai tadi lupa ngucapin selamat, hehe.." "Makasih bang, makasih banget lo jemputannya...hmm..ntar kapan kapan abang kalau Vina undang datang ya..." Kubayangkan Vina dengan senyum manisnya. Dia mau ngundang aku dan keluarga atau aku sendiri ya, pikirku agak surprise. Ah, gue yakin dia ngundang aku sendiri nih! Gak papalah ge-er dikit. "OK deh, sayang..." Uppsss, baru kenal gue bilang apa tadi? "Sayang nih...ntar ditimpuk sama bini lo bang.." "Hehehe...nice to meet you Vin, salam sama keluarga ya.." kataku, yang ini agak keras agar Feby gak curiga. Sedang istriku sibuk bermain dengan kedua anakku, jadi gak perlu kuatir. Ah, sial lagi...aku tidak sempat nyatet no HP-nya eh, tapi nanti malam masih bisa lihat di ponsel Feby kok, pikirku mulai keluar isengnya.
Seminggu setelah acara wisuda tsb tiba tiba aku menerima sms. "Bang, lagi di mana nih...ada acara gak? Vina" Hah? gak salah nih, pikirku. Dengan pura pura menahan diri, 5 menit kemudian baru aku jawab dengan menelpon langsung. Tengsin dong sms balik. "Hai Vin, apa kabar? Aku lagi di Jakarta nih..lagi makan nih ama temen temen di...." kataku menyebut suatu tempat di Plasa Senayan. "Nah, itu dia..Vina juga lagi di Jakarta nih bang, lagi boring..." "Lho...aku pikir jadi Ke Amrik" kataku sekenanya. "Males bang, Vina lagi di tempat sodara nih...abang kapan pulang Bandung?" "Lusa...kamu?" "Iya, boleh dong kita pulang bareng...Vina naik kreta bang" Buset dah, bener kan kata gue Vina tipe penggoda. "Hmm...gimana ya.." kataku sok ragu, padahal udah pengen banget."Kita lihat nanti ya, Vin. Ntar sore abang telpon kamu. Eh, Feby tau gak kamu ada di jakarta?" "Nggak bang, mau Vina kasih tau sama Feby dan istri abang?" "Hahah..bukan gitu maksudku, ok deh ntar jam 5 sore bang telpon kepastiannya ya.." kataku bersorak. Emang kalau rejeki gak bakal lari ke mana mana.
Cepat cepat aku beresin tugasku di Jakarta. Sebetulnya sore ini juga sudah selesai tapi teman teman di Jakarta seperti biasa suka ngajak main bilyar dan karaoke. Jadi, sorry friend, kali ini gue ada urusan penting, gue mesti cabut. Jam 5 sore aku telpon Vina. Aku tanya dia sedang apa, kalau boring kenapa gak jalan sama sodara atau temen temennya. "Abang ada acara gak ntar malam, ajakin Vina nonton dong?" "Ok Vin, gue takut macet, gimana kalau kita ketemuan di 21 Plasenta"
Pendek cerita, Vina dengan jeans ketat dan T-shirtnya aku temui di 21. Dia sudah beli tiket untuk berdua. Mentang mentang tajir, tiket aja dibeliin ama cowo.Aku gak ingat apa judulnya. Yang jelas begitu masuk gedung bioskop, aku gandeng tangan Vina dan itu seperti yang diinginkannya. Vina memulai dengan sinyal mengatakan sedang boring, pengen jalan dsb. Kubelai rambutnya dan seperti sudah diduga, dia rebahkan bahunya sepanjang film berputar. Tak ada penolakan ketika jemariku menyusup ke balik T-sirt dan branya. Semua lancar. Ia melenguh ketika kupelintir putingnya, kuelus perutnya. Ketika jemariku menyusup ke sela sela pahanya, ia berbisik "Jangan di sini bang..." Hmmm...itu sudah sesuai dengan harapanku dan harapannya. Aku juga sudah konak berat ketika keluar dari gedung bioskop. Di dalam mobil, seperti harimau kehausan kami berciuman dengan gairah. Aku suka suara lenguhnya, kepasrahannya ketika kusedot putingnya dan jariku menelusup ke celah celah memeknya yang sudah basah sekali. Vina bener bener horny nih. Gue juga sih. "Vina, aku pengen jilat memek kamu sayang.." "Hmmm...terus bang, Vina gak tahannn..."
Bulu bulu halus memeknya kusibak, klentitnya yang sudah mengeras sungguh nikmat diemut. Ini keberuntunganku yang kesekian kalinya. Aku tau Vina masih perawan! Hmm...basah memeknya membuat gairahku sampai ubun ubun. Baunya sungguh harum dan nampak terawat. Kusedot itilnya, tubuhnya sampai bergetar menahan nikmat. Tangannya aku arahkan meremas kontolku. Tetapi ternyata dia lebih suka blow job. Apa boleh buat, di mobil yang sempit ini harus terjadi pergumulan yang menggairahkan. Sedotan lidahnya sungguh membuatku melayang jauh. Tanganku tak henti meremas toketnya yang indah dengan puting kecoklatan yang sudah mengeras. Karena di depan terlau sempit, aku mengajaknya pindah ke jok belakang. Vina dengan tak sabar melepas celana dalam hitamnya. Aku sungguh merangsang melihat wanita dengan CD hitam, sepertinya Vina tahu selera seksku, heheh... Nampaknya Vina tipe cewek blwjob mania, ia terus saja mengoral batangku. Kupikir hobbinya ini sejalan dengan hobbiku mengoral memek cewek. Kuberi isyarat agar ia mengambil posisi 69 dengan aku di bawah. Gila man,memek si Vina memang OK punya, masih kelihatan garis vertikalnya dengan kelentit yang sungguh imut dan mengeras. Segera kuremas pantatnya dan kujilat perlahan paha dalamnya sebelum memasuki area memeknya. Vina melenguh, dan aku makin terangsang dengan suaranya yang sendu.Cairan memeknya segera kuhisap. Hmmm...
"Ouhhh....please Johnnn...kamu apain memekku say, enak bangetttt!" "Hmmm...." hanya suara itu yg keluar dari mulutku sambil menyeruput cairan memeknya yg mulai banjir.Sementara jemari Vina yang halus masih menggenggam kontolku "Say...Vina gak tahan...Vina mau keluar sayang..terus terus...isep kacangku...ahhhh!"
Aku memang selalu ingin memuaskan cewe cewe yang making love denganku. Menurutku ini salah satu rahasia cewe cewe selalu ketagihan ngentot denganku. Perlakukan wanita dengan gentle, jangan egois. Sembilan dari 10 cewe dijamin suka dioral, diisep itilnya. Hmmm... Mereka adalah makhluk yang butuh perhatian dan belaian. Jangan bersikap bodoh meninggalkan mereka meraung raung karena tak terpuaskan. Ada saat tertentu kapan kita membuat mereka tak bisa berhenti. Vina akhirnya terduduk lemah namun tangannya masih menggenggam batangku yang masih ngaceng. "Makasih ya bang, abang sungguh laki laki yang baik!Sekarang Vina pengen memuaskan abang..." Nah lo, bener kan kataku, karena puas wanita sebetulnya tidak egois. "Iya Vina cantik, kamu istirahat dulu...gak usah terburu buru, kita masih punya waktu sampai besok kan?" "Ih, abang nakal..." katanya sambil meremas kontolku. "Sekarang Vina pengen lagi bang...pengen dimasukin sama kontol abang..." "Tapi kamu kan masih perawan say...?" "lho kok abang tau sih?" "Kan abang sudah periksa tadi, hehehe..." "Ihhh...nakal deh...Vina jadi malu..." katanya manja. "Vin, abang sayang kamu, tetapi untuk memerawani kamu abang sungguh gak tega..." "Tapi kan Vina yang mau...please bang...Vina rela" "Vin, kalau dengan oral kamu bisa orgasme, ngapain harus berdarah?"
Yang benar benar tidak kuduga, Vina menangis.Wah, kacau deh...tapi aku tidak ingin bicara lagi. Perlahan kukecup bibirnya, kuhapus airmatanya dan benar pemirsa eh pembaca, gairahnya mulai naik kembali. Segera diemutnya kontolku. Hmmm....enak gila. Dan aku kembali mengajaknya ke posisi VW (vosisi Wenakkk) favoritku mengerjai memek cewe dari belakang alias posisi 69. Pantat Vina sampai bergetar menahan nikmat. Lidahku basah oleh lendir cintanya. Aku berkonsentrasi agar kali ini spermaku muncrat di mulutnya. Tipe cewe pehobbi blowjob adalah penyelesaian akhir harus di mulutnya. Kusedot klentit Vina dengan lembut tetapi kuat dan itu cukup membuatnya makin menguatkan sedotannya pada kontolku. Memek Vina memang beraroma perawan, cairannya sungguh kental dan aku senang menelannya. Uhh...kontolku berkedut kedut seakan mau muncrat, tetapi kutahan. Aku ingin kali ini aku dan Vina mencapai orgasme bersamaan.
"Ohhh...Johnnn...fuck me please, pengen keluar say....ouhhhh..." teriaknya. Itu adalah pertanda kurang dari 1 menit lagi dia akan mengalami orgasme. Jadi sebetulnya orgasme bisa diukur alias terukur. Kupercepat sedotanku pada kedele Vina sambil tanganku berusaha meraih susu dan putingnya.Vina tak bisa menahan orgasmenya. "Auhhhh...Johnnn....Vina keluar...ahhh...ahhh..." lenguhnya. Dan seperti yang kuperhitungkan akhirnya aku juga mengeluarkan pejuku dan muncrat ke wajahnya namun kurasakan mulut Vina menyeruput kontolku dengan cepat. Aku sampai kehabisan kata kata untuk melukiskan bagaimana perasaan terbangku! Kupeluk Vina dan kubelai rambutnya, sambil say thank!
Aku sebenarnya ingin menceritakan lanjutan perjalanan yang menggairahkan ke Bandung dengan Vina.Sensasi sensasi yang aku dan Vina dapatkan. Ternyata Vina juga menyukai ngentot sambil berdiri. Dibeberapa lokasi kami terpaksa berhenti mencari tempat rimbun pepohonan. Vina segera melepaskan celananya, mengangkat sebelah kakinya dan dengan berjongkok aku isep memeknya yang cepat basah itu. Kadang ia menungging dan aku sedot itilnya dari belakang. Wajah pasrah dan puas cukup membuatku juga orgasme
Vina sebetulnya anak baik. Dia cuma sedikit sial (tetapi cukup menikmati) ketemu dengan petualang sepertiku, abang dari temannya. Percaya atau tidak Vina masih tetap perawan sampai akhirnya dia berangkat ke Wisconsin, USA melanjutkan studi.
TAMAT

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Ada kesalahan di dalam gadget ini

selingan

Loading...
Ada kesalahan di dalam gadget ini
Ada kesalahan di dalam gadget ini

haphap

Loading...

news

Share |

Daily Calendar

koleksi

koleksi

koleksi

koleksi